Cerita sebelumnya:
Cerpen: Katakan Pada Hatiku (4)
Hari itu tanggal 19 juni, ia menjemputku sepulang kuliah, kemudian ia mengajakku kesuatu tempat yang indah, yang sebelumnya aku belum pernah melihatnya. Sungguh pemandangan pantai yang indah, tanpa ku duga doni mengatakan kembali perasaannya padaku. Aku pun tidak bisa berkata apa-apa dan aku hanya bisa mengatakan untuk yang kedua kalinya bahwa aku sudah punya kekasih. Namun ia tidak peduli, ia rela menjadi yang kedua asalkan aku mau menerima cintanya. Aku semakin bingung karena aku merasa kalau aku pun suka padanya. Lalu bagaimana dengan iwan? Aku tidak tau bagaimana kabarnya sekarang, entah apa yang sedang terjadi padanya.
Semakin lama kabarnya pun semakin jarang ku terima. Kulihat wajah doni yang semakin terlihat cemas seakan menanti sebuah jawaban yang besar dari mulutku. Namun ia tak berani menatapku, pandangannya hanya tertuju pada ombak yang biru, mungkin juga pandangannya kosong karena memikirkan jawaban dariku.lama kami terdiam, hingga yang terdengar hanya ombak yang saling berkejaran.
Tanpa kusadari keadaanku kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Penyakitku sekarang tak pernah kambuh lagi, aku merasa diriku telah kembali pada ragaku. Dan ini semua karena doni, hal ini membuatku semakin berat padanya.
Kurasa ia tulus, pikirku.?
Kenapa kau memilihku sementara kau tau aku sudah tidak bisa untuk memilih? Kataku.
Karena hatiku berkata bahwa kamulah yang pantas untuk kupilih, jawabnya.
Hatiku semakin kacau, aku seperti berada jauh diantara dua pilihan yang sama sekali aku tidak bisa memilihnya.
Seandainya aku lebih dulu mengenalmu dari orang lain, pastilah aku menjadi lelaki yang amat beruntung. Namun itu tak pernah kusesali, karena tuhan telah amat baik padaku hingga ia telah mempertemukan aku denganmu walaupun aku sadar, aku tidak bisa memilikimu, papar doni.
Kata-kata doni seperti menyumbat aliran darahku, ia sama sekali tak menyalahkan garisan takdir ini. Namun sebaliknya ia jujur untuk bersyukur, karena Tuhan telah mempertemukan kita dalam keadaan yng paling buruk sekalipun bagi dirinya. Karena yang terpenting baginya adalah kesempatan pernah mengenalku. Lalu apakah aku salah jika kuberikan sepenggal hati ini untuknya, seseorang yang sudi mencintaiku walaupun ia tau aku tidak bisa untuk memilihnya??? Pikiranku pun selalu menggodaku.
Tuhan… katakanlah pada hatiku tentang angin yang berbisik diluar sana, agar kekasihku pun tak pernah ragu padaku. Dan sampaikanlah pada hatinya yang lain bahwa sesungguhnya cintanya padaku tidaklah sia-sia.
Tamat.
Label: Cerpen, Katakan Pada Hatiku
Cerita sebelumnya:
Cerpen: Katakan Pada Hatiku (3)
Siang itu aku pulang kuliah bersama dengan temanku ririn. Hari sangat panas, hingga, hingga matahari pun serasa memanggang hangus kulitku.
Ririn??? Tiba-tiba datang seorang lelaki menghampiri kami yang sedang berdiri menunggu angkutan.
Hiii!!! Don pa kabar? Lama nggak denger kabar kamu, jawab ririn.
Iya nih da lumayan lama yach kita nggak ketemu, tambah cakep aja neh.
Ah kamu bisa aja nggak berubah yah masih suka merayu. Doni hanya tertewa mendengar ucapan temannya itu. Sebenarnya doni adalah cowok yang baik dan perhatian dengan cewek, teman ceweknya pun banyak tapi entah mengapa dia belum pernah berhubungan serius dengan seorang cewek.
Oh iya lupa nih kenalin, teman kuliahku namanya susi. Sus kenalin juga neh temanku SMP dulu, Doni. Ririn mencoba mengenalkan kami.
Hiii!!! Doni,,,! Ujar doni sambil mengulurkan tangannya.
Susi, jawabku pendek.
Kami pun ngobrol-ngobrol bertiga, tanpa terasa angkutan yang kita tunggu pun sudah berlalu begitu saja tanpa kami sadari, mungkin karena kami terlalu asik ngobrol.
Duh gimana ni Rin? Sudah sore, ntar nggak kebagian angkutan lagi, desakku.
Aku antar yach! Tiba-tiba saja doni menawarkan diri untuk mengantar kami.
Masak berdua sih, ntar kalau ada polisi gimana? Jawabku.
Gini aja aku sms mas ku minta jemput disini, ntar biar kamu diantar doni, mau kan don? Kata ririn.
Sip…lah, jawab doni.
Aku pun terpaksa menurut, karena tak ada pilihan lain. Setelah kejadian itu doni sering sms aku, dia tau nomerku dari ririn. Rasanya ini semua ulah ririn, dia sepertinya yang merancang semua ini. Aku dan doni pun semakin akrab. Ternyata memang benar, dia cowok yang baik dan ramah walaupun agak cerewet sih, tapi dia perhatian. Sampai akhirnya ia mengatakan hal yang sama sekali tidak ku duga sebelumnya, ia pun mengatakan suka padaku lewat sms. Dan aku pun membalasnya bahwa aku sudah punya kekasih.
Label: Cerpen, Katakan Pada Hatiku
Lanjutan dari Cerpen: Katakan Pada Hatiku (1)
Aku merasa nggak enak sudah membohongi orang tuaku, aku hanya tak ingin mereka khawatir dengan keadaanku yang aku sendiri tak tau apa sebenarnya yang terjadi pada diriku. Namun aku sudah tidak mampu mengusai diriku aku pun berteriak-teriak dan menjerit, dan saat itupun ibuku tak pernah beranjak meninggalkanku, beliau selalu menemaniku sambil membacakan do’a-do’a supaya hatiku tenang. Sebenarnya aku merasa malu pada ibu, tidak seharusnya aku membuatnya menangis karena keadaanku ini. Seharusnya diusiaku yang menginjak dewasa ini aku lebih bisa mandiri dan berusaha menunjukkan jati diriku, namun sebaliknya aku malah hanya bisa berbaring lemah tanpa tau apa yang terjadi pada diriku.
Haripun berlalu begitu saja, namun keadaanku tetap tak ada perubahan sedikitpun. Tanpa aku sadari keadaanku ini telah tersebar ketetangga, desas-desus yang terdengar yaitu aku menjadi sakit-sakitan karena ditinggal kekasihku keluar kota, dan itu memang benar, iwan sudah 1 bulan lebih keluar kota untuk bekerja keluar kota mengikuti ayahnya. Dan aku harus merelakannya pergi saat ia berpamitan denganku. Rasanya singkat sekali baru seminggu kita berkenalan kemudian ia harus pergi. Aku memang rawan dalam urusan perasaan, baru pertama aku mengenal cinta, memahami dan merasakan apa kata hatiku, namun cinta itu harus pergi dan meninggalkan hatiku yang mulai memahami apa kata hatinya. Kubiarkan cinta itu pergi karena memang tak ada suatu alas an untukku menahannya.
Cinta yang berlalu begitu cepat ternyata tidak bisa membuat aku menjadi orang yang mampu berdiri seperti sebelumnya, perasaan ada sesuatu yang hilang terus saja membayangi hatiku, hingga akhirnya aku pun tak kuat menahan perasaan ini. Aku merasakan sesuatu yang tak pasti dari hatiku, jarak kadang memang bisa membuat diri menjadi jauh dari kepastian. Walaupun kepercayaan bisa menjembataninya, namun jarang pertemuan antara hati dan hati bisa membuat semuanya hilang sedikit demi sedikit. Dan aku harus menanggung perasaan ini sendiri dalam keadaan bimbang, dan aku harus menepis semua kerinduan.
Tiga bulan berlalu dan aku melalui hari-hariku seperti biasa, aku sudah mulai beraktifitas seperti biasanya, namun aku merasa masih ada sesuatu yang terasa hilang dari hatiku, rasanya tidak ada yang bisa mengobati.
Label: Cerpen, Katakan Pada Hatiku
Susi terlihat berbaring lesu diatas tempat tidur, sudah 5 hari gadis manis itu menghabiskan hari-harinya dikamar. Tak ada yang tau sakit apa yang sedang ia alami. Orang tuanya sudah berkali-kali membawanya kedokter, namun dokter hanya bilang gadis berlesung pipit itu baik-baik saja. Dokter hanya menyarankan supaya ia jangan terlalu banyak berfikir. Kini semua keluarganya hanya bisa pasrah dan berdo’a pada tuhan supaya anak bungsunya itu bisa sembuh seperti semula.
Susi sudah tidur? Suara ibu terdengar nyaring namun penuh dengan kecemasan, namun tidak ada jawaban sama sekali darinya. Ia hanya termenung sambil mengedipkan matanya.
“Apa kau sudah merasa baikan Sus?” Tanya ibunya.
“Aku hanya merasa takut Bu kalau sendirian.” jawab susi.
Ibu akan menunggumu disini seperti hari-hari kemarin, tak terasa air mata ibu mengalir begitu saja, namun dengan segera ibu mengusapnya karena ia tak ingin susi melihatnya. Susi hanya terlihat tenang mendengar ucapan ibunya, berbeda dengan hari kemarin, susi selalu dengan tiba-tiba berteriak sendiri dan tidak mengijinkan sedetikpun
Ibunya pergi meninggalkannya. Dia seperti merasa ketakutan, suhu badannya ikut naik setiap penyakitnya kambuh. Karena orang tuanya tidak tau lagi harus berbuat apa, maka atas anjuran dari pihak keluarga ibunya susi pun dibawa ke orang pintar atau yang disebut penduduk setempat sebagai kyai. Namun penyakit susi kambuh juga. Ayah dan ibunya pun sudah pasrah dan hanya bisa berdo’a untuk anak bungsunya tersebut.
Semua orang tidak pernah menyangka gadis sebaik susi akan terkena penyakit yang aneh ini. Selsin ia ramah pada orang, budi pekertinya juga baik, sehingga ia sangat disayangi teman-temannya. Gadis pemalu itu tidak pernah merasa iri hati atau pun membanggakan diri pada teman-temannya, maka ia pun tak pernah mempunyai musuh, sehingga jika ada orang yang berkata gadis baik itu terkena guna-guna maka siapa kiranya yang tega berbuat demikian.
Semasa duduk dibangku SMA susi terbilang anak yang pintar, ia selalu mendapat 10 besar dan waktu naik ke kelas tiga ia pun terjaring masuk Ipa. Semasa sekolah gadis berambut ikal itu tidak pernah terlihat dekat dengan cowok, apalagi berduaan dengan cowok, mungkin karena sifatnya yang pemalu membuat dia sulit untuk bergaul dengan cowok. Hingga sampai saat ini pun ia mabih belum punya cowok, dan ia pun belum mempunyai keinginan untuk punya pacar seperti teman-temannya yang sibuk mencari kenalan kesana kemari. Namun susi adalah tempat curhat yang lumayan asik walaupun dia belum pernah pacaran. Dan semua berubah saat susi lulus SMA, ia mulai mengenal kaum Adam, apalagi setelah ia kuliah dan memang dituntut untuk bersosialisasi dengan siapapun termasuk laki-laki. Dan sejak itulah semua berubah, ia berkenalan dengan lelaki bernama iwan, perkenalannya itu pun berkat jasa teman SMA nya dulu. Dan mereka pun akhirnya pacaran.
Apa kau tau cinta bisa membuat setiap insane berubah? Dan apakah engkau juga tau bahwa cinta bisa membuat seseorang menjadi orang lain? Itulah kata-kata yang pernah diucapkan Iwan kepadaku.
Aku tau karena aku telah merasakannya, jawab Susi. Semua yang ada dalam diriku serasa berubah menjadi orang lain ketika engkau mengajariku tentang cinta. Aku sering mendengar kata cinta, membaca dari novel-novel atau pun melihatnya disinetron dan mendengar curhat dari teman-teman. Aku hanya tau tanpa bisa merasakannya dan kamulah yang mengajariku arti cinta yang sesungguhnya. Terima kasih, kata susi mengakhiri ucapannya.
Aku memang sudah pernah pacaran, namun dia pergi meninggalkan aku, dan kini aku tak mau itu terulang lagi, aku tak mau kelak suatu hari kau pergi meninggalkanku, papar iwan.
Aku ingin serius bersamamu bahkan sampai datang saatnya nanti aku akan melamarmu, lanjutnya. Gadis manis itu merasa bahagia karena iwan begitu tulus mencintainya. Namun ia takut dan bingung, sebenarnya orang tuanya telah melarang gadis itu untuk pacaran dulu sampai lulus kuliah, susi bukanlah gadis pada umumnya yang akan merasa senang dan bahagia jika kekasih yang dicintai mengungkapkan maksud ingin serius padanya. Karena ini baru pertama kalinya ia mengenal cinta dan baru pertama kali pula seseorang bermaksud serius padanya, terlihat dari wajahnya rasa ketidak siapan atas semuanya. Bukan karena ia tidak sungguh-sungguh mencintai iwan, namun tidak lain hanya karena ia seorang gadis yang polos hingga ia malah merasa bingung harus berkata apa.
Semua kata-kata iwan selalu ia ingat dimana pun ia berada, di rumah, di kampus, bahkan di masjid waktu ia beribadah. Memang hati susi sangat rawan, hingga iwan dengan mudah bisa memasuki hatinya namun iwan bisa juga menghancurkan hatinya berkeping-keping.
Kamu kenapa Sus akhir-akhir ini kok terlihat murung? Tanya ibunya.
Ya Bu, anakmu ini nggak seperti biasanya, sekarang doyan ngelamun, tambahayahnya.
Nggak ada apa-apa kok Yah!, Bu!, susi cuman males aja, bantah susi pelan.
Biasanya kamu kan selalu yang pertama terlihat didepan tv, sambung ayahnya.
Lagi males aja Yah!, bantahku.
Yauda kalau nggak ada apa-apa ibu sama ayah cuman khawatir, jelas ibu.
Label: Cerpen, Katakan Pada Hatiku